Retno Dwi, Gadis Unik Tukang Ngemil Beras dari Desa Pesantren, Purwokerto

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Retno Dwi, Gadis Unik Tukang Ngemil Beras dari Desa Pesantren, Purwokerto

Post  tahenk on Fri Apr 19, 2013 11:41 pm

Terasa Asam, Habis Makan Pedas Tak Ngemil Beras

Siapa sangka gadis cantik ini ternyata punya keunikan dibanding manusia lain. Retno Dwi Widi Asmara, begitu nama lengkapnya, ternyata punya kegemaran ngemil beras hingga lebih dari dasawarsa. Anehnya kegiatan ngemilnya sudah menjadi candu.

TEGUH H AKBAR, Purwokerto
POSTUR tubuh Retno Dwi Widi Asmara ramping dengan tinggi 150 sentimeter. Rambutnya lurus nan lembut terurai sampai bahu. Warna kulitnya putih oriental terlihat dari wajah yang bersih tanpa polesan kosmetik. Senyum simpul yang dihasilkan dari perpaduan dua lembar bibir tipisnya tertawar ramah ketika datang ke kantin Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Kamis (18/4) pukul 12.05. Satu senyuman yang dijadikan sapaan gadis yang akrab disapa Dwi ini, sebagai sapaan kepada pelanggan warung saat makan siang.
Layaknya gadis seusianya, Dwi datang berdampingan dengan sejumlah rekannya. Usai memesan menu, dia duduk di meja kanan paling timur, di warung kecil yang menghadap ke barat itu.
Tak lebih dari sepuluh menit pelayan warung mengantarkan menu yang dipesan Dwi dan rekan. Namanya makan siang, tentu saja satu persatu dibagikan seporsi nasi lengkap dengan lauk-pauknya. Tanpa dikomando tiga rekan Dwi memulai menyantap makan siang. Tapi ternyata, tidak bagi Dwi. Dia hanya duduk manis menikmati es teh berikut roti kemasan yang tak lama kemudian diambilnya di meja.

Lama menunggu temannya makan Dwi terlihat gelisah. Dia lantas beranjak ke dapur kantin menemui pemilik. Terlihat bersama pemilik dia membisikkan sesuatu dan disambut tawa pria yang diajaknya bicara pelan itu. Kembali ke meja Dewi membawa rantang kecil berbahan plastik. Saat diperhatikan isinya berupa beras. Sebuah momen yang aneh karena lokasi tempat makan itu justru membawa nasi mentah yang secara umum tak layak dikonsumsi.

Semakin aneh lagi ketika Dwi menciduk beras dengan tangan. Di hadapan puluhan pengunjung kantin dia begitu santai memakannya. Satu, dua, tiga raupan beras dengan tangan disantapnya dengan lahap. Kontan saja seisi warung dibuat kaget. Sedang Dwi dan rekannya tetap santai seperti tak menghiraukan perhatian asing dari pengunjung.
Potret unik ini tentu saja mengundang rasa ingin tahu apa yang terjadi dengan Dewi. Usut punya usut ternyata itu menjadi hal biasa baginya. Sudah hampir 13 tahun Dewi punya kebiasaan unik mengonsumsi beras.

"Emang aku suka ngemil beras mentah sejak kecil," kata gadis kelahiran 23 April 1995 ini. Dalam kurun 13 tahun itu tak seharipun dia ketinggalan mengonsumsi. Makanya bukan hal aneh lagi bagi rekan dan orang yang mengenalnya.
Sejarahnya sederhana saja. Kisaran usia lima tahun silam Dwi kerap menyambut ibunya ketika pulang dari rice mill usai menggiling padi. Beras itu sesekali diciuminya. Aroma wangi yang dihasilkan beras membuatnya tertarik untuk mencicipi. Tak disangka rasanya nikmat bagi Dwi. Sehingga sejak saat itu kegemaran ngemil beras dimulai.

Kenikmatan yang dihasilkan isi biji padi tanpa dimasak itu membuatnya ketagihan. Dalam menjalani hari-hari terasa asing ketika mulutnya tak disuap beras. Alhasil beras yang disiapkan untuk dimasak di rumah semakin gampang terkurangi karena diambilnya. "Sehari itu bisa habis empat gelas, kadang bisa lebih malah," ucap perempuan berjilbab ini.
Putra kesayangan pasangan almarhum Dasiman dengan Musriyah ini berkisah kegemarannya mengonsumsi beras sejak usia lima tahun. Hobi unik yang kini sudah menginjak 13 tahun ini juga bukan sekadar iseng. "Itu karena aku suka dan rasanya selalu ingin makan setiap harinya," kata siswi SMK YPE Sumpiuh ini.

Bahkan ngemil beras bagi Dewi sudah menjadi candu. Dia mengaku terasa asam kalau sampai sehari tak makan beras. "Apalagi kalau habis makan pedas seperti bakso. Rasanya belum lengkap kalau belum ngemil beras. Ibaratnya cowok yang makan pedas belum ngerokok. Rasanya gimana gitu," tutur Dwi yang tercatat sebagai siswi jurusan Administrasi Perkantoran (AP) di sekolahnya.
Kondisi itulah yang menjadikan adik kandung dari saudara kembar, Ibnu Indarto dan Ibnu Indarso kerap melakukan hal unik dalam keseharian. Usia lima tahun Dwi ketika awal mula dia suka ngemil. Makan beras dengan cara ngumpetpun dilakukan. "Iya dulu kan awalnya sempat nggak boleh sama orangtua. Makanya kadang dulu suka ngambil beras di dapur diam-diam, trus dibawa ke kamar buat dimakan," tutur gadis yang kini mengikuti Praktik Kerja Industri (Parkrin) SMK YPE Sumpiuh di Dindik Banyumas.

Kondisi ini tak bertahan lama karena lama-kelamaan orangtua memahami. Kebiasaan unik juga dilakukan Dewi ketika sekolah. Demi memenuhi kegemarannya ngemil beras, dia sampai punya cara khusus. Dari rumah dia menyiapkan beras dalam plastik. Dibawa di dalam tas untuk bekal ngemil saat istirahat. "Biasanya disimpan di saku atau laci. Ntar istirahat dimakan," ujar alumnus SMP Negeri 2 Tambak yang mengenakan cincin di jari tangan kanan ini.

Tentu saja ketika lama-kelamaan ketahuan teman-teman jadi perhatian khusus. Sejumlah rekannya yang memandang unik dan aneh kerap menertawai kebiasaannya. Meaki begitu Dewi tidak mengambil hati. "Buatku asyik aja diketawain juga. Toh aku nyaman-nyaman aja dan yang pasti ndak menyalahi orang lain,"ujarnya lagi.
Tiga belas tahun mengonsumsi beras tidak dirasakan dampak buruk bagi tubuh Dewi. Perut dan pencernaannya dirasa enjoy saja. ’’Nggak ada masalah kok. Kalau makan nasi ya kadang tetap makan,’’ ujar alumnus SDN 1 Pesantren yang menarget bisa masuk Fakultas Ekonomi Unsoed ini. (*)

>>>RadarMas / INDOPOS / Jawa Pos News Network
avatar
tahenk

Jumlah posting : 2009
Join date : 27.01.08
Lokasi : Jakarta Selatan

Lihat profil user http://tahenk.multiply.com/

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik