Jembatan Soeharto Makin Terancam

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Jembatan Soeharto Makin Terancam

Post  tahenk on Mon Nov 25, 2013 8:32 pm

*TIGA KALI JEBOL

BANYUMAS - Limpasan Sungai Serayu semakin mengancam Jembatan Soeharto yang merupakan penghubung Jalur Selatan Pulau Jawa.

Hal itu menyusul kembali jebolnya groundsill jembatan itu di wilayah perbatasan Desa Cindaga, Kecamatan Kebasen dan Desa Rawalo, Kecamatan Rawalo, Banyumas pada 14 November lalu.

Anggota Dewan Sumber Daya Air Provinsi Jateng, Eddy Wahono, mengatakan limpas Sungai Serayu berbahaya bagi Jembatan Soeharto, karena saat ini groundsill yang berfungsi sebagai pelindung pilar jembatan tidak berfungsi, lantaran jebol.

Menurutnya groundsill tersebut sebelumnya telah dua kali jebol, yaitu pada 18 Oktober dan 25 Oktober, kemudian 14 November lalu kembali jebol sepanjang 50 meter.

Ia mengatakan, groundsill yang sebenarnya sedang dalam proses perbaikan itu kembali jebol lantaran dihantam limpas Sungai Serayu yang volumenya mencapai 665 meter kubik (m3) per detik.

‘’Kondisi limpas tersebut relatif sangat kecil bila dibandingkan limpas bendung rata-rata pada musim hujan mencapai 1.000 m3 per detik. Apalagi yang terjadi pada 9 November 2000, limpas mencapai 2.500 m3 per detik. Sementara saat ini diprediksi masih masuk musim penghujan yang sangat mungkin kondisi limpasnya mencapai titik maksimal,’’ katanya.

Melihat kondisi tersebut, bila penanganan kerusakan tidak dilakukan dengan baik, struktur Jembatan Soeharto yang akan dipertaruhkan. Menurutnya, groundsill yang ada selama ini juga dibangun terlalu dekat dengan jembatan yaitu hanya berjarak 25 meter.

Terlalu Kecil

Selain itu juga tidak dibangun kolam olah yang berfungsi sebagai penahan gerusan dasar sungai (scoring-red).

‘’Akibat tidak ada kolam olah, arus sungai di sekitar groundsill menjadi sangat liar. Hal itu menyebabkan dasar sungai tergerus dan itulah yang sebenarnya membahayakan pilar jembatan. Ini harus ditangani serius, sebab fungsi Jembatan Soeharto amat vital dalam menunjang transportasi,’’ jelasnya.

Kasi Pengendalian dan Penggunaan (Dalguna) BPSDA Serayu Citanduy, Arief Sugiarto, juga menyayangkan penggunaan bahan batu bolder dalam pembuatan dan perbaikan groundsill yang terlalu kecil. Seiring curah hujan yang semakin tinggi, perkembangan limpas juga akan semakin naik. Kondisi tersebut menyebabkan bolder mudah terkikis dan hanyut. ‘’Yang disayangkan memang itu, ukuran batu terlalu kecil,’’ kata dia.

Ia juga menegaskan kondisi tersebut, secara otomatis mengancam keberadaan pilar Jembatan Soeharto. Apalagi, jarak antara groundsill dan pilar jembatan cukup dekat, berkisar 25 meter. Dekatnya groundsill dengan pilar jembatan juga dia sayangkan.

Dia berharap, penanganan groundsill membutuhkan kordinasi yang baik dengan semua pihak. Peranan groundsill cukup vital bagi Jembatan Soeharto yang menghubungkan jalur lintas selatan Jawa itu. (K17,tg-17,47)

sumber: suara merdeka
avatar
tahenk

Jumlah posting : 2009
Join date : 27.01.08
Lokasi : Jakarta Selatan

Lihat profil user http://tahenk.multiply.com/

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik